9,3
Monday, January 29th, 2007
pernah saya bilang buat apa bikin sim segala, toh punya sim apa enggak sama saja. g pernah kena atau lebih tepaatnya belum pernah kena tilang-sebelum kena tentunya-faktanya dari tiga kali terjaring operasi-2 kali lolos, dan saaaaaaaatu kali kena tilang 20rb.
jumat 26 januari kemarin akhirnya bikin sim juga, entah karena sukarela atau di paksa, sepertinya tidak penting. sampai di tempat bikin sim langsung telepon bapak tukang photo-nya, dia (bapak tukang photo) adalah-istilahnya akses pe-mercepat antrian dalam pembuatan sim-bisa juga di bilang calo-nya, hehe..
maunya sok idealis gitu, lewat ujian trus antri gitu, tapi kelamaan. dan faktanya tetep ujian juga.
ujian nya g mutu, tapi anehnya ada juga yang tidak lolos ujian. dan yang bikin aneh lagi-kok bisa-bisanya ada soal yang salah, dua lagi, dan akhirnya dapat skor 9,3. cukup memalukan untuk ukuran sigit pribadi.
cukup total 50 menit saja buat bikin saaaaatu sim, lumayan cepat untuk yang ikut ujian, ujian atau tidak ujian adalah pilihan, bedanya yang tidak ujian harus kena biaya 5rb rupiah. seharusnya yang ujian malahan yang kena duit. logikanya gini: yang ujian setidaknya menghabis kan saatu helai kertas jawaban, sedangkan yang tidak ujian tidak pakai kertaas apapun. aneh kan?
total biaya yang dihabis kan sebesaar 170rb dengan rinician: 15ribu untuk cek kesehatan yang sama sekali tidak mutu dan seenaknya saja mencamtumkan tinggi badan tanpa harus mengkonfirmasikannya dengan si pembuat sim. jadinya tinggi saya menjadi 160 cm, naik beberapa cm. sebuah keuntungan sebenarnya.
75rb untuk formulir, dan 80 ribu untk suatu hal yang g jelas, besar kemungkinan 80rb itu adalah untuk pihak2 yang merasa berhak untuk mendapatkan uang tersebut.
