Tanggal 13 tak selamanya sial.
Seperti biasanya, tak ada yang istimewa dalam tulisan kali ini. Masih seperti tulisan-tulisan lainnya. Menyampah.
Muntilan sebuah kota kecil di luar jogja. Dikeliingi pegunungan (Merapi yang katanya mau meletus. Ah.. Pers hanya membesar-mbesarkanya., Merbabu, Menoreh, Sumbing dan laennya) dan mataharinya terbit dari timur dan tenggelam di barat. Selain hal seperti itu agak sulit bagi saya meyakini sebuah objektifitas yang mengklaim dirinya sebagai yang paling absolut. Tapi ironisnya sebagian orang bergegas di pagi hari, seperti halnya saya yang harus mendisiplinkan diri dalam barisan batalyon penghirup knalpot jalanan sebelum jam kuliah maupun untuk sederetan berhala objektifitas.
Celoteh bolehlah celoteh, dan bolehlah menjadi bacot argumen yang menyampah.Teori bisa berumit-rumit dengan kompleksitas bahasa argumen. Apakah saya ini adalah orang yang dikutuk untuk terus mempertanyakan ‘fitrah’ saya sebagai seorang super-subyektif, untuk tidak bergegas bersahabat dengan keimanan terhadap dunia yang dirancang se’objektif’ mungkin. Karena saya yakin, jalan yang saya jalani setiap hari tidak di bangun tanpa embel-embel yang menyertainya. Hari ini, kemarin dan hari-hari sebelumnya saya hampir habis di makan belatung pragmatisme sehingga saya harus berulang-ulang memulai sesuatu dengan sedikit penyemangat ‘c’mon let’s rock n roll’ yang padahal jauh kenyataanya dari ‘rock en rol’. Seperti kata seorang temen/sahabat/pacar ‘chayo!! kamu bisa’ untuk tetap selalu semangat minimal di hadapan dia. Saya tak hanya habis tempat untuk menyimpan fanzine dan newletter tanpa harus khawatir mereka tak terbaca, di distro-distro yang sekarang sudah hampir berubah menjadi butik-butik, kami pun hari ini tak memiliki tempat untuk sekedar mengbrol, ngalor-ngidul terlebih berdiskusi dan mengorganisir momen yang mungkin sudah terlalu ‘mewah’.
Keputusan untuk berpindah memalingkan kita untuk melihat lurus ke depan. Menuju tempat baru, untuk bisa sekedar singgah atau tinggal selamanya. Aku teringat jalan sutra, tentang hijrah, cerita film tentang pelarian. Juga tentang pengungsi atau anak yang kabur dari rumah dan tak kembali. Bahkan tentang sosok yang berjalan ke arah tanpa tujuan. Jalan sutra, hijrah, pelarian, pengungsian dan kabur. Betapa di dalamnya berisi cerita-cerita. Cerita yang berbeda dengan ruang dan tempat yang kita tinggal.
Adakah persimpangan itu lebih menarik daripada tempat tujuan? Apakaah kawan baru di emperan yang kita lalui menyentuh kita dan whuuuufff !! hilang sudah tujuan? Sudah lama aku tinggal di sini.