Hidup inilah yang memilih kita. Jangan di balik, kita tak pernah bisa memilih hidup kita. Jangankan hidup,
lahir di rahim siapapun, kita tak pernah bisa memilih. Kita ditentukan, dan manakala kita mengeluh, atas
apa yang kita dapatkan, itupun tak sepenuhnya salah.Tapi, siapakah yang akan membela jika kita mengeluh
dan memepertanyakan keadilan? Tidak ada. Oleh karenanya, kawan, lebih baik nikmati sebatang rokok kehidupan ini,
tanpa mempersalahkan siapapun. ( Yanusa Nugroho: Bukit Nusa Indah, 982 ).
Walaupun saat ini dan mungkin untuk seterusnya sampai jiwa ini masih terperangkap dalam jasad ini, aku takkan
bisa menikmati rokok, entah itu cuman sebatang. Merokok adalah salah, tidak di ragukan lagi, akupun tau, namun
nyatanya itulah mungkin satu-satunya kebahagiaan yang benar-benar aku sadari aku dapatkan. Aku benci hidup sehat.
Karena akan selalu ada batasan. Tapi itulah hidup, kita tidak akan bisa hidup bebas, akan selalu ada ikatan.
Walaupun bagaimanapun juga aku harus tetap menjalaninya. “Jauhi goreng-gorengan, berhenti merokok, Istirahat
yang cukup”, ujar seorang dokter. Sampai saat ini mungkin berhasil, “sedikit”: mengurangi gorengan,
tidak lagi merokok, dan sudah jarang keluar malem (mungkin sudah tidak lagi). Dan dengan konsekuensi di
jejali banyak pertanyaan tidak penting. Ah sial. Seperti tulisan di awal, tidak perlu ada yang disalahkan, walaupun
sebenarnya aku ingin mempersalahkan diriku sendiri, mungkin juga Tuhan.